Kamis, 20 Mei 2010

STRATEGI PENGELOLAAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG DI KARANG JERUK KABUPATEN TEGAL, PROVINSI JAWA TENGAH

Kusnandar, Noor Zuhry, Nur Isdarmawan

ABSTRAK

Kawasan terumbu Karang Jeruk merupakan kawasan suaka perikanan (Fish Sanctuary) yang keberadaannya dapat memberikan perlindungan biota yang ada di dalamnya, sehingga keanekaragaman sumberdaya hayati dapat lebih dipertahankan. Oleh karena itu, untuk menciptakan pengelolaan yang terarah dan sinergis diperlukan suatu perencanaan pengelolaan yang strategis, yang di dalamnya terdapat strategi-strategi alternatif bagi pengelolaan terumbu karang yang baik untuk mempertahankan eksistensi dan meningkatkan fungsi kawasan lindung Karang Jeruk.
Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi kondisi ekosistem terumbu karang di Karang Jeruk Kabupaten Tegal, mengkaji persepsi masyarakat penguna tentang ekosistem terumbu karang tersebut, mengkaji tingkat partisipasi masyarakat pengguna terhadap upaya konservasi ekosistem terumbu karang tersebut, menganalisis faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi pengelolaan ekosistem terumbu karang di Karang Jeruk Kabupaten Tegal dan merumuskan strategi-strategi pengelolaannya.
Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Data diambil dengan menghitung tutupan karang di Karang Jeruk. Persepsi dan partisipasi masyarakat diukur dengan menggunakan data ya g diambil dengan metode survey.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase tutupan karang berkisar 20,00%-49,37% termasuk dalam kriteria rusak dengan kategori jelek sampai sedang. Sedangkan persepsi masyarakat tentang ekosistem terumbu Karang Jeruk mempunyai tingkat persepsi cukup sampai sangat baik dengan persepsi baik mempunyai tingkatan tertinggi sebesar 57 orang (81,43%), untuk tingkat partisipasi masyarakat terhadap upaya konservasi ekosistem terumbu Karang Jeruk mempunyai tingkat partisipasi dari rendah sampai baik dengan tingkat partisipasi cukup mempunyai tingkatan tertinggi sebesar 60 orang (85,71%). Berdasarkan hasil Analitycal Hierarchy Process (AHP), diperoleh bahwa peningkatan partisipasi masyarakat dan lembaga terkait menjadi prioritas utama dalam upaya konservasi terumbu Karang Jeruk dengan bobot 0,290. Sedangkan untuk analisis SWOT, alternatif strategi WO yaitu (1) menata kembali (rezonasi) kawasan terumbu Karang Jeruk sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku; (2) membangun sistem kelembagaan yang melibatkan pemerintah, swasta, perguruan tinggi dan masyarakat dalam pengelolaan ekosisem terumbu Karang Jeruk; dan (3) mengintensifkan program pendampingan masyarakat guna meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat, menempati peringkat pertama dalam skala prioritas pengelolaan ekosistem terumbu Karang Jeruk dengan skor 108.

Kata Kunci : Strategi, Pengelolaan dan Terumbu Karang Jeruk Kabupaten Tegal



ABSTRACT


Coral reef ecosystem at Karang Jeruk is known as fish sanctuary which protects existing organisms to maintain its biodiversity. Therefore, in order to establish synergetic management, there is a need to have strategic management planning. It consists of several alternative strategies of reliable coral reef managerial planning to which maintain its existence and to improve the functions of conservation area of Karang Jeruk.
The objectives of this study are to identify the condition of coral reef ecosystem at Karang Jeruk, Tegal Regency; to observe public perception concerning the ecosystem; to observe public participation for coral reef conservation; to analyze internal and external factors influencing coral reef management at Karang Jeruk, and to formulate its management strategies.
The method used in the present study is case study. Data were obtained by measuring percent cover of coral at Karang Jeruk. Public perception and participation were measured by using data which were collected through survey method.
Results of the study show that the percentage of coral coverage ranged from 20.00% to 49.37%, belonging to damaged criteria which belong to bad to fair category. Public perception concerning the coral reef ecosystem at Karang Jeruk has fair to excellent perception level with the good perception has the highest level as many as 57 people (81.43%). Meanwhile public participation level on the coral reef ecosystem conservation has low to good participation level with the fair participation level has the highest level as many as 60 people (85.71%). Based on the Analytical Hierarchy Process (AHP) results, it is obtained that the improvement of the participation of public and related institutions becomes the main priority in the efforts of coral reef conservation at Karang Jeruk with the value of 0.290. Meanwhile, for SWOT analysis, the alternatives of WO strategy are (1) rearrange (rezoning) the area of coral reef at Karang Jeruk according to the prevailing law and order; (2) build an institutional system that includes the government, private institutions, universities, and public in the management of coral reef ecosystem at Karang Jeruk; and (3) the effort of intensifying the public assisting program in order to improve public awareness and participation is at the first rank in the priority scale of coral reef ecosystem management at Karang Jeruk with the score of 108.

Keywords: strategy(ies), management, coral reef at Karang Jeruk Tegal Regency


I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pengelolaan sumberdaya pesisir merupakan usaha yang harus diupayakan secara terus menerus dan berkesinambungan. Sumberdaya alam memiliki batas kemampuan maksimal, yang jika pemanfaatannya sudah mencapai titik puncak, pasti produktivitas akan menurun. Salah satu sumberdaya pesisir yang mempunyai potensi yang sangat besar tetapi terancam punah akibat dari tekanan pemanfaatan adalah terumbu karang.
Menurut Anggoro (2001), arti penting dari keberadaan terumbu karang dapat dilihat dari perannya terhadap kehidupan ikan (biota laut), antara lain :
1. Sebagai habitat (tempat) perlindungan dan mencari makan.
2. Sebagai tempat memijah (spawning ground) dan membesarkan anak-anaknya (nursery ground).
3. Sebagai pusat orientasi ruaya ikan-ikan peruaya (migratory species dan occasionally visitors).
4. Sebagai peredam arus dan gelombang sehingga merupakan penyangga daratan/pantai.
5. Sebagai tempat bernaung , tumbuh dan bereproduksi.
6. Sebagai sumber tumbuh-berkembangnya produsen primer dan pakan alami.
Menurut Burke et al. (2002), luas terumbu karang Indonesia sekitar 51.000 km2. Jika estimasi ini akurat, maka 51% terumbu karang di Asia Tenggara dan 18% terumbu karang di dunia, berada di perairan Indonesia. Dari segi hayati, terumbu karang di Indonesia tergolong yang terkaya di dunia dengan kandungan keanekaragaman tumbuhan dan hewan laut yang luar biasa. Saat ini, lebih dari 480 jenis karang batu telah didata di wilayah timur Indonesia, dan merupakan 60% jenis karang batu di dunia yang telah berhasil dideskripsikan. Keanekaragaman tertinggi ikan karang di dunia ditemukan di Indonesia, dengan lebih dari 1.650 jenis hanya untuk wilayah Indonesia bagian timur.
Pengamatan yang dilakukan di kawasan barat dan timur Indonesia, diperkirakan terumbu karang yang masih baik hanya sekitar 6,2%. Ketergantungan masyarakat yang sangat besar terhadap ekosistem terumbu karang sebagai penyedia berbagai sumber daya alam hayati, mengakibatkan terjadinya ekstraksi berlebihan bahkan banyak dilakukan dengan cara yang merusak kelestariannya. Ketergantungan masyarakat akan sumber daya alam ini, terutama masyarakat yang bermukim di sekitarnya, memperlihatkan pentingnya suatu sistem pengelolaan yang melibatkan masyarakat itu sendiri (BAPPEDA Kabupaten Kepulauan Mentawai, 2001).
Wilayah Kabupaten Tegal mempunyai ekosistem laut yang khas dan berperan penting bagi kesinambungan daur hidup biota laut dan produktivitas perikanan tangkap. Ekosistem khas tersebut berupa terumbu karang yang memiliki banyak gugusan karang massive berbentuk menyerupai jeruk sehingga masyarakat sekitar menyebut gugusan karang tersebut dengan nama Karang Jeruk.
Karang Jeruk merupakan kawasan suaka perikanan (Fish Sanctuary) yang keberadaannya diharapkan dapat memberikan perlindungan biota yang ada di dalamnya, sehingga keanekaragaman sumberdaya hayati dapat lebih dipertahankan. Oleh karena itu, semua komponen masyarakat baik masyarakat pengguna (nelayan), maupun instansi terkait dan perguruan tinggi harus dapat memberikan perhatian dalam perlindungan terhadap keberadaan Karang Jeruk, sehingga upaya rehabilitasi dan konservasi sumberdaya perikanan dapat terus berlangsung sebagai proses regenerasi stock ikan.
Di samping itu untuk menciptakan pengelolaan yang terarah dan sinergis diperlukan suatu perencanaan pengelolaan yang strategis, yang di dalamnya terdapat strategi-strategi alternatif bagi pengelolaan.

1.2 Rumusan Masalah

Kegiatan konservasi kawasan Karang Jeruk beberapa kali dilakukan melalui penanaman Terumbu Karang Buatan sampai kegiatan pemberdayaan masyarakat sebagai upaya untuk memandirikan masyarakat melalui perwujudan potensi kemampuan yang dimiliki dengan tujuan melibatkan masyarakat secara aktif dengan setiap kegiatan dari perencanaan, implementasi serta tahap pemantauan. Diharapkan pemberdayaan masyarakat dalam kegiatan ini dapat meningkatkan pemahaman, pengetahuan, dan kesadaran kolektif untuk menjaga, melindungi dan melestarikan terumbu karang yang ada di Kawasan Karang Jeruk.
Untuk tetap menjaga tersedianya stok ikan di laut, maka habitat vital sebagai tempat restocking ikan perlu dilindungi. Oleh sebab itu kawasan Karang Jeruk sebagai salah satu habitat vital (reservaat) di perairan Tegal perlu dijaga kelestariannya serta ditata dan diatur pemanfaatannya, umtuk itu diperlukan strategi pengelolaan yang baik untuk mempertahankan eksistensi dan meningkatkan fungsi kawasan lindung Karang Jeruk.

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Mengidentifikasi kondisi ekosistem terumbu karang di Karang Jeruk Kabupaten Tegal.
2. Mengkaji persepsi masyarakat penguna tentang ekosistem terumbu karang di Karang Jeruk Kabupaten Tegal.
3. Mengkaji tingkat partisipasi masyarakat pengguna terhadap upaya konservasi ekosistem terumbu karang di Karang Jeruk Kabupaten Tegal.
4. Menganalisis faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi pengelolaan ekosistem terumbu karang di Karang Jeruk Kabupaten Tegal.
5. Merumuskan strategi pengelolaan terumbu Karang Jeruk Kabupaten Tegal.
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada stakeholder baik masyarakat maupun pemerintah daerah bagi usaha-usaha pemanfaatan dan pengelolaan sehingga dapat dilakukan langkah-langkah pengelolaan ekosistem terumbu karang di wilayah Karang Jeruk Kabupaten Tegal yang terarah dan sinergis agar memberikan manfaat yang optimal bagi manusia maupun bagi sumberdaya itu sendiri.

II. METODOLOGI PENELITIAN

2.1 Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Menurut Hadi (1993) studi kasus merupakan metode penelitian terhadap suatu kasus secara mendalam yang berlaku pada waktu, tempat dan populasi yang terbatas sehinggga memberikan gambaran tentang situasi dan kondisi lokal dan hasilnya tidak dapat digeneralisasikan pada waktu dan tempat yang berbeda.
Karakteristik terumbu karang, diambil dengan melakukan pengamatan langsung di lapangan dan data sekunder hasil penelitian terdahulu yang didapat dari instansi terkait.
Sedangkan persepsi dan partisipasi masyarakat, dikumpulkan langsung dari informasi di lapangan baik melalui kuesioner (daftar pertanyaan) maupun hasil wawancara.

2.2 Teknik Analisis Data

2.2.1 Analisis Ekosistem Terumbu
Karang Jeruk

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan analisis deskirptif kualitatif.
Presentase Total untuk tutupan karang dianalisis dengan menggunakan Formulasi :
Total panjang intersep per genus
Cover (%) = X 100%
Total panjang transek
Persentase tutupan karang hidup dinilai menggunakan kriteria baku kerusakan terumbu karang.
Tabel 1. Kriteria Baku Kerusakan Terumbu Karang Berdasarkan Persentase Penutupan Karang

No. Kriteria Kategori Tutupan (%)
1. Rusak Jelek 0 – 24,9
2. Sedang 25 – 49,9
3. Baik Baik 50 – 74,9
4. Baik Sekali 75 – 100
Sumber: Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 4 Tahun 2001
Keanekaragaman jenis ikan dan karang dianalisis dengan mengikuti Formulasi Shannon-Wiener (Ludwig dan Reynolds, 1988 dalam Estradivari et al., 2007) yang digunakan untuk mengambarkan hubungan antar struktur populasi jenis biota karang, dengan rumus :
H’ = - ∑ ni / N x ln ni / N
.


Jika H’ = 0 maka komunitas terdiri dari satu jenis atau spesies tunggal dan jika nilainya mendekati maksimum maka semua spesies terdistribusi secara merata pada komunitas. Nilai indeksnya adalah :

H’ < 1 = keanekaragaman kecil, tekanan
ekologi sangat kuat
1 < H’ < 3 = keanekaragaman sedang, tekanan
ekologi sedang
H’ > 3 = keanekaragaman tinggi, ekosistem
seimbang merata
Indeks keseragaman (E) digunakan untuk melihat keseimbangan individu di dalam komunitas ikan dan karang. Nilai berkisar antara 0 sampai 1, dengan rumus :
H’
E = ; H’maks = ln S
H’maks



Kriteria nilai Indeks Keseragaman adalah sebagai berikut :
E < 0,4 = keseragaman populasi kecil
0,4 < E < 0,6 = keseragaman populasi sedang
0,6 > E ≤ 1 = keseragaman populasi tinggi
Indeks Dominasi Simpson digunakan untuk mengetahui sejauh mana suatu kelompok biota mendominasi kelompok lain, dengan rumus :

C = ∑ (ni/N)2

Kriteria indeks dominansi adalah sebagai berikut :
0 < C ≤ 0,5 = dominansi rendah
0,5 < C ≤ 0,75 = dominansi sedang
0,75 < C ≤ 1 = dominansi tinggi

2.2.2 Analisis Persepsi dan Partisipasi
Masyarakat

Data persepsi dan tingkat partisipasi yang akan dianalisis dalam penelitian ini adalah data yang menunjukkan tingkatan atau gradasi yang biasa disebut sebagai data ordinal. Skala pengukuran data primer menggunakan metode skala Likert (Sugiyono, 2006). Skala ini digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau kelompok tentang fenomena sosial dan setiap jawaban menggunakan interval skor, yaitu :
1. Untuk persepsi masyarakat :
Tabel 2. Skala Likert Persepsi Masyarakat
Kategori (Nilai) Interval Nilai/Jawaban Bobot (%)
Sangat Jelek (1) 0 – 3 0 – 20
Jelek (2) 4 – 6 21 – 40
Cukup (3) 7 – 9 41 – 60
Baik (4) 10 – 12 61 – 80
Sangat Baik (5) 13 – 15 81 – 100

Data interval dianalisis dengan menghitung rata-rata jawaban berdasarkan skoring setiap jawaban responden. Jumlah skor ideal adalah 5 X 70 = 350 dengan kategori Sangat Baik dan tingkat persepsi (350 : 350) X 100% = 100%. Secara kontinum digambarkan sebagai berikut :




2. Untuk partisipasi masyarakat :
Tabel 3. Skala Likert Partisipasi Masyarakat
Kategori (Nilai) Interval Nilai/Jawaban Bobot (%)
Sangat rendah (1) 0 – 4 0 – 20
Rendah (2) 5 – 8 21 – 40
Cukup (3) 9 – 12 41 – 60
Tinggi (4) 13 – 16 61 – 80
Sangat tinggi (5) 17 – 20 81 – 100
Data interval dianalisis dengan menghitung rata-rata jawaban berdasarkan skoring setiap jawaban responden. Jumlah skor ideal adalah 5 X 70 = 350 dengan kategori Sangat Tinggi dan tingkat partisipasi (350 : 350) X 100% = 100%. Secara kontinum digambarkan sebagai berikut :


2.2.3 Analisis Kebijakan Pengelolaan Ekosistem Terumbu Karang Jeruk

Analisis selanjutnya untuk menentukan prioritas pilihan pengelolaan ekosistem terumbu Karang Jeruk Kabupaten Tegal adalah dengan menggunakan Analitycal Hierarki Process (AHP) dikembangkan oleh Saaty (1993) digunakan untuk menyelesaikan permasalahan komplek dari masalah yang dihadapi dengan bantuan software Expert Choice V.9. Secara umum hirarki dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu :
a. Hirarki struktural, yaitu masalah yang kompleks diuraikan menjadi bagian-bagiannya atau elemen-elemennya menurut ciri atau besaran tertentu. Hirarki ini erat kaitannya dengan menganalisis masalah yang kompleks melalui pembagian obyek yang diamati menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil.
b. Hirarki fungsional, menguraikan masalah yang kompleks menjadi bagian-bagiannya sesuai hubungan esensialnya. Hirarki ini membantu mengatasi masalah atau mempengaruhi sistem yang kompleks untuk mencapai tujuan yang diinginkannya seperti penentuan prioritas tindakan, alokasi sumberdaya.
Kemudian untuk menemukan kesesuaian strategis antara peluang eksternal dengan kekuatan internal yang memperhatikan ancaman eksternal dan kelemahan internal, maka digunakanlah analisis SWOT (Rangkuti, 2006).
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Kondisi Ekosistem Terumbu Karang Jeruk

Secara geografis Karang Jeruk berada di 109o11,85’ BT – 109o12,15’ BT dan 06o48,55’ LS – 06o48,70’LS dengan luas sekitar 925 m2 di bagian tengah ke arah permukaan dan sekitar 3.600 m2 di bagian dasar. Apabila ditarik garis lurus sejajar dengan perkampungan nelayan Dukuh Larangan, Desa Munjungagung, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal dengan jarak dari garis pantai terdekat 3,15 mil. Perairan Karang Jeruk mempunyai tanda yang mudah dikenali keberadaannya yaitu dengan adanya menara suar yang diberi lampu (Lembaga Studi Pembangunan Daerah Kendal, 2001).
Pengambilan data kondisi hidro-oceanografi, data ikan dan data kondisi karang dilakukan pada 4 stasiun, yaitu :
- Stasiun I : Berada di sisi barat terumbu Karang Jeruk
- Stasiun II : Berada di sisi utara terumbu Karang Jeruk
- Stasiun III : Berada di sisi timur terumbu Karang Jeruk
- Stasiun IV : Berada di sisi selatan terumbu Karang Jeruk
Pertama-tama dilakukan identifikasi kondisi hidro-oceanografi dari masing-masing stasiun, dengan hasil tersaji pada tabel 4.
Tabel 4. Data Kondisi Hidro-Oceanografi Perairan Terumbu Karang Jeruk

Variabel Stasiun I Stasiun II Stasiun III Stasiun IV
Posisi S 06o48’57”
E109 o11’85” S 06°48'55''
E109 o11’99” S06o48’65”
E109 o12’13,9” S 06 o48’68”
E109 o11’99”
Salinitas 33‰ 34‰ 33‰ 33‰
Suhu Air 31˚C 31˚C 31˚C 31˚C
Kecerahan 3 m 3 m 3 m 3 m
Kedalaman 3 m 7 m 4 m 3 m
Kec. Arus 0,1m/dt 0,1m/dt 0,1m/dt 0,1m/dt
Arah Arus Barat Barat Barat Barat
Substrat Karang – pasir Karang – pasir Karang – pasir Karang – pasir

Berikutnya adalah identifikasi biota yang ada meliputi jenis dan kelimpahan ikan dan kondisi karang.

Tabel 5. Indeks Ekologis Jenis-Jenis Ikan di Lokasi Pengamatan
Stasiun (H’) (E) (C)
I 1,465 0,705 0,356
II 1,992 0,958 0,146
III 1,900 0,977 0,156
IV 1,689 0,868 0,224
Rata2 1,762 0,877 0,221
Tabel 5 di atas dapat dilihat bahwa indeks ekologi dari jenis-jenis ikan yang ada dilokasi penelitian menunjukkan bahwa untuk indeks keanekaragaman (H’) rata-rata nilainya 1,762, sehingga termasuk dalam kategori keanekaragaman sedang dengan tekanan ekologi sedang menandakan bahwa kondisi keanekaragaman jenis-jenis ikan dalam proses pemulihan. Indeks keseragaman (E) rata-rata nilainya 0,877, sehingga masuk dalam kategori keseragaman populasi sedang yang menandakan adanya upaya untuk mempertahankan diri dengan perlahan menuju kepada keadaan yang lebih baik. Kemudian berdasarkan indeks dominansi Simpson (C) rata-rata nilainya 0,221, kategori dominansi jenis dari setiap stasiun rendah, menandakan tidak ada dominansi dari salah satu jenis ikan.
Tabel 6. Persentase Penutupan Karang di Karang Jeruk

No Stasiun Total %-Penutupan Karang Hidup
1. Stasiun I 35,33
2. Stasiun II 49,37
3. Stasiun III 41,00
4. Stasiun IV 20,00
Kondisi persentase tutupan karang hidup pada terumbu Karang Jeruk saat ini dibandingkan pada tahun sebelumnya terjadi penurunan, dimana pengamatan yang dilakukan pada Bulan Agustus 2007 persentase tutupan karang 31,76%-75,84% (Jaya Konsultan, 2007) sedangkan dari hasil pengamatan pada saat penelitian, persentase tutupan karang menjadi 20,00%-49,37%. Hasil pengamatan dan wawancara dengan masyarakat bahwa kondisi ini terjadi karena pada Bulan Desember 2007 sampai Maret 2008 terjadi musim barat dengan gelombang dan arus yang tinggi berakibat pada kerusakan karang, ini dibuktikan dengan adanya patahan karang di sekitar Karang Jeruk. Penyebab lain, masih ada nelayan yang beroperasi di sekitar perairan Karang Jeruk walaupun sudah jarang ditemukan penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, tetapi dalam kegiatannya masih menurunkan jangkar di sekitar karang.
Berdasarkan hal tersebut di atas, sesuai dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 4 Tahun 2001 terumbu Karang Jeruk termasuk dalam kriteria rusak dengan kategori jelek sampai sedang.
Tabel 7. Indeks Ekologis Jenis Karang di Karang Jeruk
Stasiun H’ E C
I 1,520 0,781 0,286
II 1,154 0,832 0,355
III 1,020 0,736 0,383
IV 1,098 0,999 0,334
Rata-rata 1,198 0,837 0,340
Data indeks ekologis dari jenis-jenis karang di lokasi penelitian pada semua stasiun menunjukkan bahwa untuk indeks keanekaragaman (H’) rata-rata nilainya 1,198, sehingga keanekaragaman sedang dan tekanan ekologi sedang, menandakan bahwa ekosistem terumbu Karang Jeruk sedang dalam kondisi pemulihan. Nilai keseragaman (E) rata-rata nilainya 0,837, sehingga masuk dalam kategori keseragaman populasi tinggi yang menandakan adanya upaya mempertahankan diri secara perlahan menuju keadaan lebih baik. Kemudian berdasarkan indeks dominansi Simpson (C) rata-rata nilainya 0,340, termasuk dalam kategori dominansi jenis dari setiap stasiun rendah dimana tidak ada dominansi dari salah satu jenis karang.
3.2 Persepsi Masyarakat Pengguna

Secara keseluruhan persepsi masyarakat pengguna tentang ekosistem terumbu Karang Jeruk Kabupaten Tegal tersaji pada Tabel 8.
Tabel 8. Persepsi Masyarakat Pengguna tentang Ekosistem Terumbu Jeruk Kabupaten Tegal
No. Kategori (Nilai) Variasi Jawaban Frekuensi %
1 Sangat Baik (5) 13 - 15 10 14,29
2 Baik (4) 10 - 12 57 81,43
3 Cukup (3) 7 – 9 3 4,28
4 Jelek (2) 4 - 6 0 0,00
5 Sangat Jelek (1) 0 - 3 0 0,00
Jumlah 70 100,00
Berdasarkan tabel di atas, persepsi masyarakat tentang ekosistem terumbu karang Karang Jeruk Kabupaten Tegal secara keseluruhan mempunyai tingkat persepsi cukup sampai sangat baik dengan persepsi baik mempunyai tingkatan tertinggi sebesar 57 orang (81,43 %).
Data interval dianalisis dengan menghitung variasi jawaban berdasarkan kategori (nilai) setiap responden. Berdasarkan kategori (nilai) yang telah ditetapkan dapat dihitung sebagai berikut :
- Skor 10 orang kategori Sangat Baik (SB) = 10 X 5 = 50
- Skor 57 orang kategori Baik (B) = 57 X4 = 228
- Skor 3 orang kategori Cukup (C) = 3 X 3 = 9
- Skor 0 orang kategori Jelek (J) = 0 X 2 = 0
- Skor 0 orang kategori Sangat Jelek (SJ) = 0 X 1 = 0
Jumlah = 287
Jumlah skor yang diperoleh dari penelitian adalah 287, sehingga tingkat persepsi masyarakat tentang ekosistem terumbu Karang Jeruk (287 : 350) X 100% = 82%. Secara kontinum dapat digambarkan sebagai berikut :


Berdasarkan perhitungan yang diperoleh dari 70 responden maka rata-rata tingkat persepsi masyarakat pengguna berada pada kategori baik. Hal ini sesuai dengan hasil kuesioner bahwa masyarakat pengguna mengenal, memahami dan mengetahui manfaat terumbu karang, namun masyarakat belum memahami payung hukum yang mengaturnya.




3.3 Partisipasi Masyarakat Pengguna

Secara keseluruhan persepsi masyarakat pengguna tentang terumbu Karang Jeruk Kabupaten Tegal tersaji pada Tabel 11.
Tabel 9. Tingkat Partisipasi Masyarakat Penggguna terhadap Upaya Konservasi Ekosistem Terumbu Karang Jeruk
No. Kategori Variasi Jawaban Frekuensi %
1 Sangat Tinggi (5) 17 - 20 0 0,00
2 Tinggi(4) 13 - 16 7 10,00
3 Cukup (3) 9 - 12 60 85,71
4 Rendah (2) 5 - 8 3 4,29
5 Sangat Rendah (1) 1 - 4 0 0,00
Jumlah 70 100,00
Berdasarkan tabel di atas, tingkat partisipasi masyarakat terhadap upaya konservasi ekosistem terumbu karang Karang Jeruk Kabupaten Tegal secara keseluruhan mempunyai tingkat partisipasi dari rendah sampai baik dengan partisipasi cukup yang tinggi sebesar 60 orang (85,71 %).
Data interval dianalisis dengan menghitung variasi jawaban berdasarkan kategori (nilai) setiap responden sebagai berikut :
- Skor 10 orang kategori Sangat Tinggi (ST) = 0 X 5 = 0
- Skor 57 orang kategori Tinggi (T) = 7 X4 = 28
- Skor 3 orang kategori Cukup (C) = 60 X 3 = 180
- Skor 0 orang kategori Rendah (J) = 3 X 2 = 6
- Skor 0 orang kategori Sangat Rendah (SJ) = 0 X 1 = 0
Jumlah = 214
Jumlah skor yang diperoleh dari penelitian adalah 214, sehingga tingkat partisipasi masyarakat pengguna terhadap upaya konservasi terumbu Karang Jeruk (214 : 350) X 100% = 61,14%. Secara kontinum dapat digambarkan sebagai berikut :


Berdasarkan perhitungan yang diperoleh dari 70 responden maka rata-rata tingkat partisipasi berada pada kategori cukup. Hal ini sesuai dengan hasil kuesioner bahwa masyarakat pengguna memanfaatkan kawasan ekosistem terumbu Karang Jeruk hanya sebagai daerah penangkapan ikan, dalam kegiatan perlindungan Karang Jeruk yang dilakukan dengan menempatkan Terumbu Karang Buatan (TKB) masyarakat juga terlibat di dalamnya. Salah satu perwujudan partisipasi masyarakat yang lain adalah dengan terbentuknya Kelompok Pengelola Suaka Perikanan Karang Jeruk (KPSPKJ) “IKHLAS” pada tahun 2004 yang telah membuat kesepakatan-kesepakatan tentang aturan pengelolaan terumbu Karang Jeruk, hanya saja dalam pelaksanaannya tidak bisa maksimal karena keterbatasan sarana dan prasarana, disamping itu pengawasan dari pihak pemerintah atau aparat penegak hukum juga tidak maksimal. Hanya masyarakat yang mempunyai kepedulian tinggi terhadap perlindungan Karang Jeruk saja yang melakukan peneguran jika ada yang melakukan upaya-upaya perusakan karang.
3.4 Analisis Hirarki Proses

Analisis dilakukan untuk mendapatkan alternatif yang tepat dalam pengelolaan terumbu Karang Jeruk dengan menyusun model struktur hirarki, model ini terdiri dari tiga tingkat dimana tingkat pertama merupakan fokus atau tujuan. Tingkat kedua merupakan kriteria yaitu aspek lingkungan, aspek sosial ekonomi, aspek biaya dan aspek manajemen serta tingkat ketiga adalah alternatif-alternatif dari kriteria yang ada.







Gambar 1. Model Struktur Hirarki Pengelolaan Terumbu Karang Jeruk

Keterangan :
A = Penegakan Hukum
B = Pembuatan Rumpon Dasar
C = Pembuatan Terumbu Karang Buatan
D = Transplantasi Karang
E = Peningkatan Partisipasi Masyarakat dan Lembaga Terkait
Selanjutnya adalah melakukan pembobotan dari struktur hirarki dengan bantuan software Expert Choice V.9. Hasil perhitungan untuk menentukan prioritas alternatif secara keseluruhan (overall) dengan menghitung bobot keseluruhan atau bobot agregat dari alternatif terhadap keseluruhan kriteria yang ada (aspek lingkungan, aspek sosial ekonomi, aspek biaya dan aspek manajemen).
Tabel 10. Bobot Agregat Alternatif Terhadap Keseluruhan Kriteria
No. Alternatif Kriteria Bobot
1. Penegakan Hukum 0,235
2. Pembuatan Rumpon Dasar 0,195
3. Pembuatan Terumbu Karang Buatan 0,189
4. Transplantasi Karang 0,092
5. Peningkatan Partisipasi Masyarakat dan Lembaga Terkait 0,290
Inconsistency Ratio = 0,07
Berdasarkan perhitungan di atas diperoleh bahwa peningkatan partisipasi masyarakat dan lembaga terkait menjadi prioritas utama dalam upaya konservasi terumbu Karang Jeruk dengan bobot 0,290.
3.4 Analisis SWOT

Hasil dari pemberian bobot dan rating dari faktor-faktor strategis kemudian dilakukan penjumlahan skor dari masing-masing alternatif strategi. Strategi dengan jumlah skor tertinggi merupakan alternatif strategi yang diprioritaskan untuk dilakukan.
Tabel 11. Rangking Alternatif Strategi Pengelolaan Terumbu Karang Jeruk
No. Alternatif Strategi Keterkaitan Skor Rangking
1. Strategi SO S (1 - 5), O (1 - 4) 85 3
2. Strategi ST S (1 - 5), T (1 - 3) 61 4
3. StrategiWO W (1 - 5), O (1 - 4) 108 1
4. StrategiWT W (1 - 5), T (1 - 3) 89 2

Tabel 11 di atas menunjukkan bahwa dari pengelompokkan alternatif strategi menjadi 4 peringkat, alternatif strategi WO menempati peringkat pertama dalam skala prioritas pengelolaan terumbu Karang Jeruk Kabupaten Tegal disusul alternatif strategi WT pada peringkat kedua, alternatif strategi SO peringkat ketiga dan alternatif strategi ST peringkat keempat. Sehingga alternatif strategi yang diprioritaskan untuk dilakukan adalah :
- Menata kembali (rezonasi) kawasan terumbu Karang Jeruk sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
- Membangun sistem kelembagaan yang melibatkan pemerintah, swasta, perguruan tinggi dan masyarakat dalam pengelolaan terumbu Karang Jeruk.
- Mengintensifkan program pendampingan masyarakat guna meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1. Kondisi ekosistem terumbu karang di Karang Jeruk Kabupaten Tegal berdasarkan persentase tutupan karang masuk dalam kriteria rusak dengan kategori jelek sampai sedang (20,00%-49,37%). Berdasarkan penilaian kondisi ekologis pada lokasi pengamatan, bahwa ekosistem terumbu Karang Jeruk sedang dalam kondisi pemulihan di mana Indeks Keanekaragaman termasuk dalam kategori sedang dan tekanan ekologi sedang (H’ = 1,198). Sedangkan Indeks Keseragaman termasuk dalam kategori tinggi yang menandakan adanya upaya mempertahankan diri secara perlahan menuju keadaan lebih baik (E = 0,837) dimana tidak ada dominansi dari salah satu jenis karang yang ditandai dengan Indeks Dominansi Simpsonnya rendah (C = 0,340).
2. Tingkat persepsi masyarakat pengguna tentang terumbu karang Karang Jeruk Kabupaten Tegal secara keseluruhan mempunyai tingkat persepsi cukup sampai sangat baik dengan persepsi baik mempunyai tingkatan tertinggi sebesar 81,43%.
3. Tingkat partisipasi masyarakat terhadap upaya konservasi terumbu karang Karang Jeruk Kabupaten Tegal secara keseluruhan mempunyai tingkat partisipasi dari rendah sampai baik dengan persepsi cukup mempunyai tingkatan tertinggi sebesar 85,71 %.
4. Hasil analisis faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi pengelolaan ekosistem terumbu karang di Karang Jeruk Kabupaten Tegal adalah :
a. Kekuatan: (1) Merupakan habitat vital bagi berbagai jenis biota laut, baik yang sifatnya menetap maupun peruaya; (2) Adanya Kelompok Pengelola Suaka Perikanan Karang Jeruk (KPSPKJ) “IKHLAS”; (3) Adanya kesepakatan-kesepakatan antar masyarakat pengguna terumbu Karang Jeruk dalam pemanfaatannya; (4) Zonasi telah tersusun sesuai karakteristik dan peruntukannya.
b. Kelemahan: (1) Karang Jeruk sifatnya mudah rapuh, pertumbuhan lamban, rawan dan peka gangguan; (2) Penurunan persentase tutupan karang; (3) Tingkat partisipasi masyarakat pengguna belum maksimal; (4) Lembaga-lembaga terkait dengan pengawasan dan monitoring belum berjalan dengan maksimal; (5) Kesepakatan-kesepakatan antar masyarakat pengguna terumbu Karang Jeruk belum berjalan dengan baik.
c. Peluang: (1) Berperan penting bagi restocking dan pendukung kelestarian stok ikan di laut; (2) Sebagai kawasan wisata bahari; (3) Dukungan dari LSM lokal sebagai mitra dalam pengelolaan terumbu Karang Jeruk; (4) Adanya peraturan perundang-udangan yang mengatur pengelolaan terumbu karang.
d. Ancaman/Tantangan: (1) Faktor arus dan gelombang pada saat musim barat, mengingat keberadaan Karang Jeruk yang terbuka dan jauh dari pantai; (2) Aktifitas yang berpotensi merusak/mencemari terumbu Karang Jeruk seperti penangkapan ikan, wisata bahari dan transportasi laut; (3) Terbatasnya kemampuan dana APBD Kabupaten Tegal.
5. Berdasarkan hasil perhitungan Analisis SWOT diperoleh rumusan strategi pengelolaan ekosistem terumbu karang di Karang Jeruk Kabupaten Tegal sebagai berikut :
a. Menata kembali (rezonasi) kawasan terumbu Karang Jeruk sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
b. Membangun sistem kelembagaan yang melibatkan pemerintah, swasta, perguruan tinggi dan masyarakat dalam pengelolaan terumbu Karang Jeruk.
c. Mengintensifkan program pendampingan masyarakat guna meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat.

5.2 Saran

1. Perlu dilakukan upaya konservasi terumbu Karang Jeruk untuk meningkatkan persentasi tutupan karang dengan melindungi dan menata kembali kawasan terumbu Karang Jeruk sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku serta mengupayakan adanya Peraturan Daerah yang mengatur pengelolaan ekosistem terumbu Karang Jeruk.
2. Peningkatan persepsi masyarakat pengguna melalui sosialisasi yang gencar tentang keberadaan terumbu Karang Jeruk sebagai kawasan yang perlu dilindungi baik melalui pamflet, radio maupun melalui penyuluhan-penyuluhan.
3. Membangun sistem kelembagaan yang melibatkan pemerintah, swasta, perguruan tinggi dan masyarakat dalam pengelolaan terumbu Karang Jeruk serta mengintensifkan program pendampingan masyarakat guna meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Anggoro, S., 2001. Pengembangan Kawasan Lindung (Fish Sanctuary) Sebagai Upaya Keberhasilan Peningkatan Restoking Ikan Di Laut. Makalah disampaikan dalam forum Seminar Pengelolaan Sumberdaya Laut Berbasis Komunitas. Semarang, 11 September 2001.
Badan Pusat Statistik Kabupaten Tegal, 2007. Kabupaten Tegal dalam Angka. Badan Pusat Statistik Kabupaten Tegal.

Bagian Proyek Pembangunan Masyarakat Pantai dan Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Jawa Tengah., 2003. Laporan Resources Ecology Assesment II. Bagian Proyek Pembangunan Masyarakat Pantai dan Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Jawa Tengah.

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Tegal, 2006. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Tegal. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Tegal.

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Kepulauan Mentawai, 2001. Kondisi Biofisik Terumbu Karang di Kepulauan Pagai Utara – Pagai Selatan Kabupaten Kepulauan Mentawai. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Kepulauan Mentawai.
Burke L, Elizabeth Selig, dan Mark Spalding, 2002. Reefs at Risk in Southeast Asia. World Resources Institute. Washington.

California State University, 2001. Sensation and Perseption. Http://www.csun. Edu~vcpsy 015/sensper.Htm.

Departemen Kelautan dan Perikanan, 2002. Pedoman Penyusunan Rencana Strategis (Strategic Plan). Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta.

Dinas Hidro-Oceanografi TNI AL, 1997. Peta Laut No. 80 Tahun 1997. Dinas Hidro-Oceanografi TNI AL. Jakarta.

Edinger E.N. dan M.J. Risk, 2000. Effect of Land-Based Pollution on Central Java Coral Reff. Journal of Coastal Development. Diponegoro University. Semarang.

Ernawati, 1997. Bangkitan Lalu Lintas di Koridor Jalan Soekarno Hatta. Departemen Planologi Institut Teknologi Bandung.

English S., C. Wilkinson dam V. Baker, 1997. Survey Manual for Tropical Marine Resources (2nd Edition). Australian Institute of Marine Science. Australia.

Estradivari, M. Syahrir, N. Susilo, S. Yusri dan S. Thimotius, 2007. Terumbu Karang Jakarta : Pengamatan Jangka Panjang Terumbu Karang Kepulauan Seribu (2004 – 2005). Yayasan Terumbu Karang Indonesia (TERANGI). Jakarta.

Giltom R.M.S., 1985. Partisipasi Rakyat dalam Pembangunan. Universitas Kristen Satya Wacana. Salatiga
Hadi, S. 1993. Metodologi Research 2. Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Hardjosoemantri K., 1986. Aspek Hukum Peran Serta Masyarakat dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup. Cetakan Ke – 3. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Jaya Konsultan, 2007. Pendampingan dan Penanaman Terumbu Karang Buatan di Perairan Karang Jeruk Kabupaten Tegal. CV. Jaya Konsultan. Brebes.
Kelompok Studi Terumbu Karang Universitas Bung Hatta, 2001. Laporan Akhir Kondisi Biofisik Terumbu Karang Di Desa Tua Pejat Kabupaten Kepulauan Mentawai. Kelompok Studi Terumbu Karang Universitas Bung Hatta. Sumatera Barat.

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 4 Tahun 2001 tentang Kriteria Baku Kerusakan Terumbu Karang.

Lembaga Studi Pembangunan Daerah, 2001. Laporan Akhir Kegiatan Penataan Fish Sanctuary di Perairan Karang Jeruk Kabupaten Tegal. Lembaga Studi Pembangunan Daerah. Kendal.

Ludwig dan Reynolds, 1988. Statistical Ecology : A Primer Methods and Computing. Jhon Wiley and Sons. New York.

Mulyono S., 1996. Peran Serta Masyarakat dalam Upaya Pengendalian Kerusakan ekosistem kawasan Pesisir. Disampaikan pada Pelatihan Penanganan Pengendalian dan Pengelolaan Kawasan Pesisir, Pantai dan Laut. Provinsi Jawa Tengah. Tanggal 21 – 26 Oktober 1996.

Murdiyanto B., 2003. Ekosistem Terumbu Karang. Bagian Proyek Pembangunan Masyarakat Pantai dan Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Jawa Tengah.

Ndraha T., 1982. Metodologi Penelitian Pembangunan Desa. Bina Aksara. Jakarta.

Nontji A., 1987. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan. Jakarta.

Nybakken J.W., 1992. Biologi Laut suatu Pendekatan Ekologis. PT. Gramedia. Jakarta.

Raharjo, 1985. Esei-Esei Ekonomi Politik. LP3ES. Jakarta

Rangkuti, F., 2006. Analisis SWOT Teknik membedah Kasus Bisnis. Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Reksodihardjo, 1995. Paket Materi Pendidikan Konservasi Kelautan. World Wide Fund for Nature. Indonesia Programme. Jakarta.

Robin S., 1996. Perilaku Organisasi. PT. Prenhalindo. Jakarta.

Saaty, T. L., 1993. Decision Making for Leader: The Analytical Hierarchy Process for Decision in Complex World. Prentice Hall Coy. Ltd. : Pittsburgh.

Sastroputro S., 1988. Partisipasi, Komunikasi, Persuasi dan Disiplin dalam Pembangunan. UI Press. Jakarta.

Studio Driya Media, 1994. Berbuat Bersama Berperan Setara : Pengkajian dan Perencanaan Program Bersama Masyarakat. Konsorsium Pengembangan Daerah Tinggi Nusa Tenggara.

Sudarisman H., 2001. Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengeolaan Daerah Aliran Sungai. Makalah disampaikan pada Acara elatihan Pengelolaan DAS dalam rangka Otonomi Daerah. Balai RKLT Cimanuk-Citanduy. TC Malangbong Garut Tanggal 16 – 20 Oktober 2001.
Sugiyono, 2006. Metode Penelitian Administrasi. ALFABETA. Bandung

Suharsono, 1996. Jenis-Jenis Karang yang Umum Dijumpai di Perairan Indonesia. P3O-LIPI. Jakarta.
Supriharyono, 2007. Konservasi Ekosistem Sumberdaya Hayati di Wilayah Pesisir dan Laut Tropis. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Suratmo F.G., 1995. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Gadjah mada University Press. Yogyakarta.

Surjani M., 1997. Pembangunan dan Lingkungan : Meniti Gagasan dan Pelaksanaan Suistainable Development. IPPL. Jakarta.

Sustiwi E., 1986. Desa, Masyarakat Desa dan Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan Desa. Usaha nasional. Surabaya.

Thimotius S., 2003. Biologi Terumbu Karang. Makalah Training Course : Karakteristik Biologi Karang. Yayasan Terumbu Karang Indonesia. Jakarta.

Tomascik, AJ. Mah, A. Nontji and MK. Moosa, 1997. The Ecology of The Indonesian Seas. Dalhousie University. Periplus Editions Singapore.

UNEP, 1993. Monitoring Coral Reef for Global Change. United Nation Environtment Programme. Monaco.

Wardoyo, 1992. Pendekatan Penyuluhan Pertanian untuk Meningkatkan Partisipasi Masyarakat dalam Penyuluhan Pembangunan Pembagunan di Indonesia Menyongsong Abad XXI. Diedit oleh A.V.S. Hubeis, P. Tjitropranoto dan Ruwiyanto W. Pustaka Pembangunan Swadaya Nusantara. Jakarta..

Wesmacott S., Kristian Teleki, Aue Wells and Jordan West, 2000. Pengelolaan Terumbu Karang yang telah Memutih dan Rusak Kritis. (Diterjemahkan oleh Jan Henning Stefen). Information Press. Oxford London.

Widjatmoko, W. Munasik dan A. Djunaedi, 1999. Teknologi Transplantasi Karang; Rekayasa Reproduksi Aseksual Acropora aspera Guna Mempercepat Rehabilitasi Lingkungan Terumbu Karang. Laporan Penelitian. Lembaga Penelitian Universitas Diponegoro Semarang.

Widodo dan Suadi, 2006. Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Laut. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Wirawan S., 1983. Teori-Teori Psikologi Sosial. Rajawali. Jakarta.

Selasa, 19 Januari 2010

PELATIHAN DASAR SELAM MAHASISWA PRODI PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN UPS TEGAL

Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan Universitas Pancasakti Tegal menyelenggarakan PELATIHAN DASAR SELAM. Kegiatan ini dilaksanakan melalui kerjasama Fakultas Perikanan dengan Pangkalan Angkatan Laut (LANAL) Tegal tanggal 19 sampai dengan 21 Januari 2010.
Hadir dalam acara pembukaan : Komandan LANAL Tegal, Rektor Universitas Pancasakti Tegal, Dekan Fakultas Perikanan dan seluruh staf Dosen.
Pelatihan ini diikuti oleh 27 mahasiswa Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan semester I, III, V, VII dan IX (mahasiwa dalam penyelesaian tugas akhir).
DANLANAL Dalam sambutannya mengatakan bahwa pelatihan ini memerlukan kedisplinn dan kekompakan yang tinggi, selain itu harus menyesuaikan dengan kemampuan diri berdasarkan kondisi masing-masing peserta. Selam jangan diartika hanya seperti masuk ke air ... sudah dianggap menyelam.
Selanjutnya Rektor UPS TEgal Prof. Dr. Tri Jaka Kartana, M.Si dalam pembukaannya memberikan pengarahan bahwa peserta pelatihan ini dapat memetik hasilnya dan kedepan perlu dibentuk klub DIVING di UPS Tegal.

Senin, 02 Februari 2009

KAJIAN POTENSI PRODUKSI PERIKANAN TANGKAP DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI TEGALSARI KOTA TEGAL


Gambar 2. Perbedaan Produksi (Kg) Hasil Tangkapan yang Tercatat oleh TPI Tegalsari
dan Kantor Pelabuhan Perikanan Pantai pada tahun 2006 dan 2007


Gambar 1. Skema Pendekatan Masalah


STUDI AKURASI DATA HASIL TANGKAPAN CANTRANG DI PPI TEGALSARI

Studi kasus Potensi PAD dari subsektor perikanan tangkap di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tegalsari

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Data hasil tangkapan sangat berperan bagi Pemerintah dalam menentukan kebijakan di bidang perikanan tangkap. Selain digunakan dalam perencanaan pembangunan, data hasil tangkapan dapat digunakan untuk menduga potensi sumberdaya ikan, memprediksi produksi perikanan dan pada gilirannya dapat digunakan untuk menentukan rencana pendapatan daerah di kabupaten/kota yang berbatasan dengan laut.

Ketepatan dalam perencanaan, pendugaan, maupun peramalan sangat ditentukan oleh ketepatan (akurasi) data hasil tangkapan dimaksud.

Akhir-akhir ini telah timbul kecemasan pemerintah terhadap kondisi data perikanan yang tersedia. Dampak yang muncul adalah adanya keraguan terhadap potensi sumberdaya perikanan di Indonesia (sekitar 6.4 juta ton/tahun) yang disinyalir perlu adanya penghitungan ulang.

Dim Kabupaten/Kota, ketidakakuratan data akan berpengaruh terhadap nilai pendapatan daerah khususnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor perikanan tangkap. Hal ini sangat bralasan karena besar kecilnya nilai produksi perikanan sangat berhubungan dengan besar kecilnya PAD yang akan didapatkan. Untuk itu perlu dilakukan kajian tentang akurasi data dan faktor penyebabnya dalam rangka untuk menggali potensi PAD yang lebih mendekati akurat.

1.2 Tujuan

Tujuan dilakukan kajian ini adalah untuk :

  1. Mengetahui potensi dan nilai produksi perikanan di Pelabuhan Perikanan Patau (PPP) Tegalsari
  2. Mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakakuratan data hasil tangkapan.
  3. Menghitung potensi PAD Kota Tegal dari sektor perikanan tangkap di PPP Tegalsari.

1.3 Waktu dan Tempat

Kajian ini dilaksanakan pada bulan September sampai dengan Desember 2008, bertempat di PPP Tegalsari, Kota Tegal

2. Perumusan Masalah

Nelayan akan mendaratkan hasil tangkapannya di tempat pendaratan ikan Pelabuhan Perikanan Pantai Tegalsari. Selama dilakukan pembongkaran hasil tangkapan, petugas dari Kantor Pelabuhan melakukan pendataan hasil tangkapan guna mendapatkan gambaran tentang potensi produksi yang lebih akurat. Selanjutnya hasil tangkapan dari nelayan masuk ke TPI untuk dilakukan pelelangan. Pihak TPI secara harian mencatat data pelelangan dalam buku bakul.

Kedua sumber data untuk selanjutnya diperbandingkan guna melihat keakuratan data. Jika tingkat keakuratan data semakin tinggi (nilai > 90%) maka dapat dikatakan bahwa hampir seluruh nelayan melelang hasil tangkapannya di TPI. Sebaliknya jika tingkat keakuratan data rendah, maka dapat dikatakan bahwa banyak nelayan yang menjual ikannya tidak melalui proses pelelangan. Dengan ata lain nelayan melakukan penjualan ikan secara langsung kepada bakul. Skema pendekatan masalah dalam penelitian ini tersaji pada Gambar 1.

3. Materi dan Metode

3.1 Materi

Materi yang digunakan dalam kajian ini adalah data potensi dan nilai produksi hasil tangkapan alat tangkap cantrang yang diperoleh dari TPI Tegalsari dan Kantor Pelabuhan Perikanan Pantai Tegalsari

3.2 Metode

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode komparatif, yaitu dengan cara membandingkan data hasil tangkapan yang dilelang di TPI Tegalsari dengan yang dicatat di kantor Pelabuhan Perikanan Pantai Tegalsari Kota Tegal. Pembandingan dilakukan untuk mengetahui keakuratan data relatif pada masing-masing instansi pendataan.

3. Hasil dan Pembahasan

3.1 Tingkat Keakuratan Data

Perbandingan data untuk memperoleh keakuratan data dari instansi terkait yang mengeluarkan produksi (Kg) dan nilai produksi hasil tangkapan di TPI dan PPP Tegalsari Kota Tegal pada tahun 2006 dan 2007 tersaji pada Tabel 1.

Berdasarkan perhitungan Penyimpangan Data (PD) antara data produksi (Kg) hasil tangkapan yang dilaporkan oleh TPI Tegalsari dan Kantor PPP baik pada tahun 2006 maupun tahun 2007 terlihat adanya penyimpangan data.

Perbandingan data produksi dan nilai produksi hasil tangkapan yang tercatat oleh TPI Tegalsari dan Kantor Pelabuhan Perikanan Pantai pada tahun 2006 dan 2007 terlihat pada grafik yang tersaji pada Gambar 2.

3.2 Pembahasan

3.2.1. Potensi Produksi Perikanan

Berdasarkan hasil penelitian terlihat bahwa produksi dan nilai produksi perikanan cantrang mengalami perbedaan yang sangat signifikan, dengan data dari Kantor Pelabuhan Perikanan Pantai jauh lebih besar dari pada data dari TPI Tegalsari. Tingkat Keakuratan Data produksi (Kg) hasil tangkapan cantrang pada tahun 2006 sebesar 9,86 % dan nilai produksi (Rp) hasil tangkapan cantrang sebesar 11,17 %, sedangkan Tingkat Keakuratan Data produksi (Kg) sebesar 14,81% dan nilai produksi (Rp) hasil tangkapan cantrang pada tahun 2007 sebesar 15,53 %. Ini berartti bahwa pada tahun 2006 data produksi yang tidak tercatat di TPI sebesar 90,14% atau sebesar 16.173.252 kg, dan nilai produksi yang tidak tercatat 88,83 atau sebesar Rp 36.954.125.000,-. Selanjutnya pada tahun 2007 data produksi yang tidak tercatat di TPI sebesar 85,19% atau sebesar 8.954.913 kg, dan nilai produksi yang tidak tercatat 84,47 atau sebesar Rp 19.8280376.000,-.

Perbedaan data produksi dan nilai produksi hasil tangkapan antara TPI Tegalsari dan data dari Kantor Pelabuhan Perikanan Pantai Kota Tegal disebabkan karena data produksi nilai produksi (Rp) hasil tangkapan dari TPI Tegalsari merupakan data hasil tangkapan yang dilelang di TPI Tegalsari, sedangkan data Kantor Pelabuhan Pelabuhan Perikanan merupakan data produksi nilai produksi yang bersumber dari nelayan pada saat melakukan bongkar hasil tangkapan.

Perbedaan ini mengandung arti bahwa sebagian besar nelayan tidak menjual ikannya melalui proses pelelangan.

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya penjualan ikan tidak melalui proses pelelangan (langsung ke bakul) antara lain :

1. Adanya keterkaitan modal antara nelayan dengan bakul terutama untuk biaya operasional melaut (bakul member pinjaman modal operasional), dengan konsekuensi nelayan berkewajiban menjual hasil tangkapannya ke bakul khususnya untuk ikan segar

2. Pihak TPI (dalam hal ini KUD sebagai pelaksana) tidak mampu membayar transaksi lelang dalam waktu cepat

3. Mengurangi biaya retribusi lelang yang dianggap cukup besar. Ikan yang lelang merupakan ikan yang kurang ekonomis sehingga harganya rendah.

Berdasarkan hasil pengamatan selama pelaksanaan penelitian diperoleh bahwa pemanfaatkan TPI Tegalsari sebagai tempat terjadinya kegiatan transaksi jual beli ikan antara nelayan sebagai produsen dan pedagang belum dimanfaatkan secara maksimal. Hal ini terjadi karena hanya sebagian hasil tangkapan yang mempunyai nilai rendah seperti ikan ekor kuning (Upeneus tragula), petek (Leiognathus sp.), pari (Trigon sephen) dan beloso (Saurida tumbil) penjualannya melalui proses pelelangan ikan, sedangkan hasil tangkapan yang mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi cumi-cumi (Loligo sp.) dan bambangan (Lutjanus sp.) tidak dilakukan proses pelelangan ikan, hasil tangkapan tersebut langsung dijual kepada bakul oleh nelayan.

3.2.2. Potensi Retribusi Lelang Perikanan Cantrang

Banyaknya hasil tangkapan yang pendistribusiannya tidak melakukan proses pelelangan mengakibatkan akan mengurangi pendapatan daerah dari hasil perikanan laut Kota Tegal. Besarnya retribusi TPI Tegalsari ditetapkan sebesar 5 % yang dipungut dari nelayan sebesar 3 % dan dari bakul sebesar 2 % dari nilai hasil lelang hasil tangkapan (raman), sesuai dengan Peraturan Daerah Propinsi Jawa Tengah Nomor 10 tahun 2003 pasal 12 yang menyebutkan bahwa besarnya tarif retribusi Tempat pelelangan ikan sebesar 5 % (lima persen) dari nilai lelang dengan perincian sebagai berikut :

1. 3 % (tiga persen) dipungut dari nelayan

2. 2 % (dua persen) dipungut dari Bakul.

Sedangkan sanksi administrasi yang dikenakan bila tidak membayar retribusi lelang sesuai dengan pasal 18 yang menyatakan bahwa : Dalam hal wajib Retribusi tidak membayar tepat pada waktunya atau kurang membayar, dikenakan sanksi admistrasi berupa bunga sebesar 2 % (dua persen) setiap bulan dari besarnya Retribusi yang terutang, yang tidak atau kurang bayar dan ditagih dengan menggunakan RTRD.

Penggunaan secara rinci hasil pungutan TPI Tegalsari berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 10 tahun 2003 pasal 28 yang menyatakan bahwa punggunaan hasil pemungutan retribusi sebagaimana table 2.

Secara keseluruhan, selama dua tahun (2006 sampai dengan 2007), seharusnya retribusi lelang yang masuk Rp 3.253.906.700,- namun kenyataannya hanya sejumlah Rp 414.781.650,- saja yang masuk, sehingga kehilangan retribusi sebesar Rp 2.839.125.050,- Khususnya untuk pemerntah Kota Tegal, sesuai dengan Peraturan Daerah Propinsi Jawa Tengah Nomor 10 tahun 2003 mengalami kehilangan pendapatan sebesar Rp 539.433.760,-

5. Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan

- Potensi perikanan tangkap PPP Tegalsari cantrang yang sesungguhnya di TPI Tegalsari jauh lebih besar dari pada data yang tercantum di TPI Tegalsari.

- Data nilai produksi perikanan laut yang tercatat di TPI Tegalsari pada tahun 2006 9,86 untuk produksi dan 11,17 % untuk nilai produksi, sementara itu pada tahun 2007 hanya 14,81 untuk produksi dan 15,53 % untuk nilai produksi.

- Rendahnya tingkat keakuratan data disebabkan oleh banyaknya nelayan yang tidak menjual ikannya melalui proses pelelangan.

- Faktor utama yang menyebabkan nelayan tidak melakukan lelang adalah adanya keterikatan modal operasional nelayan kepada para bakul.

- Besarnya potensi PAD bagi Pemerintah Kota Tegal tahun 2006 sampai dengan 2007 sebesar Rp 618.242.273,- tetapi yang masuk hanya Rp 78.808.514,- sehingga mengalami kehilangan sebesar Rp 539.433.760,-

Saran

Perlu adanya pengawasan dan tindakan yang lebih tegas sesuai dengan Peraturan Daerah Propinsi Jawa Tengah Nomor 10 tahun 2003 tentang Tempat Pelelangan Ikan.

DAFTAR PUSTAKA

Azis, K.A dan B. Mennofatria. 2000. Konsep Dasar dan Pengembangan Sistem Pendataan Perikanan. Makalah disampaikan pada Diskusi Pembangunan Perikanan dan Kelautan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Bappenas. 2002. Strategi Pengelolaan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan. Makalah dalam Forum Komunikasi Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Berbasis Komunitas, Pantai Utara Jawa Bagian Barat. PIU-PCO Co-Fish, Ambarawa.

Effendie, H.M.I. 2002. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama, Yogyakarta

Gulland, J.A. 1991. Fish Stock Assessment. A Manual of Basic Methods. John Wiley & Son. Chichester-New York-Brisbane-Toronto-Singapure.

Kusnadi. 2006. Pemahaman dan Anatomi Kemiskinan Nelayan, Peluang dan Strategi Penanggulangannya dalam Perumusan Langkah Bersana Penanggulangan Kemiskinan Nelayan. Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. Badan Riset Kelautan dan Perikanan. Depertemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta

Kusumastanto, T. 2000. Peranan Data Statistik dalam Perencanaan Pembangunan Perikanan. Makalah disampaikan pada Diskusi Pembangunan Perikanan dan Kelautan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Marzuki. 2002. Metode Riset. Bagian Penerbitan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta

Nikijuluw, V. P. H. 2002. Rezim Pengelolaan Sumberdaya Perikanan. Pusat Pemberdayaan dan Pembangunan Regional (P3R) dan PT Pustaka Cidesindo, Jakarta.

Pane, A.B. 1998. Analisis Hasil Tangkapan (Dasar). Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Purwanto, A.B. 2002. Exploitation Status and A Strategy for The Management of The Java Sea Fisheries. Proceeding Workshop International Pengelolaan Sumberdaya Perikanan. Ditjen Perikanan Tangkap DKP, Jakarta

Pusat Riset Perikanan Tangkap. 2005. Pentingnya Bukti - Bukti Ilmiah dalam Pengambilan Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Ikan. Departemen Kelautan dan Perikanan. http://www.dkp.go.id. diterima Google’s pada 12 Jul 2005 03:44:26 GMT

Saptarini, D., Suprapti dan H.P. Santosa. 1995. Pengelolaan Sumberdaya Kelautan dan Wilayah Pesisir. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta

Sarosa, W. 2003. Pemanfaatan Laut Melalui Pemberdayaan Nelayan. Info URDI Vol. 11. http://www.urdi.org/urdi/ seperti yang diterima pada 06 Oktober 2005 09:30:45 GMT