Senin, 02 Februari 2009

KAJIAN POTENSI PRODUKSI PERIKANAN TANGKAP DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI TEGALSARI KOTA TEGAL


Gambar 2. Perbedaan Produksi (Kg) Hasil Tangkapan yang Tercatat oleh TPI Tegalsari
dan Kantor Pelabuhan Perikanan Pantai pada tahun 2006 dan 2007


Gambar 1. Skema Pendekatan Masalah


STUDI AKURASI DATA HASIL TANGKAPAN CANTRANG DI PPI TEGALSARI

Studi kasus Potensi PAD dari subsektor perikanan tangkap di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tegalsari

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Data hasil tangkapan sangat berperan bagi Pemerintah dalam menentukan kebijakan di bidang perikanan tangkap. Selain digunakan dalam perencanaan pembangunan, data hasil tangkapan dapat digunakan untuk menduga potensi sumberdaya ikan, memprediksi produksi perikanan dan pada gilirannya dapat digunakan untuk menentukan rencana pendapatan daerah di kabupaten/kota yang berbatasan dengan laut.

Ketepatan dalam perencanaan, pendugaan, maupun peramalan sangat ditentukan oleh ketepatan (akurasi) data hasil tangkapan dimaksud.

Akhir-akhir ini telah timbul kecemasan pemerintah terhadap kondisi data perikanan yang tersedia. Dampak yang muncul adalah adanya keraguan terhadap potensi sumberdaya perikanan di Indonesia (sekitar 6.4 juta ton/tahun) yang disinyalir perlu adanya penghitungan ulang.

Dim Kabupaten/Kota, ketidakakuratan data akan berpengaruh terhadap nilai pendapatan daerah khususnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor perikanan tangkap. Hal ini sangat bralasan karena besar kecilnya nilai produksi perikanan sangat berhubungan dengan besar kecilnya PAD yang akan didapatkan. Untuk itu perlu dilakukan kajian tentang akurasi data dan faktor penyebabnya dalam rangka untuk menggali potensi PAD yang lebih mendekati akurat.

1.2 Tujuan

Tujuan dilakukan kajian ini adalah untuk :

  1. Mengetahui potensi dan nilai produksi perikanan di Pelabuhan Perikanan Patau (PPP) Tegalsari
  2. Mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakakuratan data hasil tangkapan.
  3. Menghitung potensi PAD Kota Tegal dari sektor perikanan tangkap di PPP Tegalsari.

1.3 Waktu dan Tempat

Kajian ini dilaksanakan pada bulan September sampai dengan Desember 2008, bertempat di PPP Tegalsari, Kota Tegal

2. Perumusan Masalah

Nelayan akan mendaratkan hasil tangkapannya di tempat pendaratan ikan Pelabuhan Perikanan Pantai Tegalsari. Selama dilakukan pembongkaran hasil tangkapan, petugas dari Kantor Pelabuhan melakukan pendataan hasil tangkapan guna mendapatkan gambaran tentang potensi produksi yang lebih akurat. Selanjutnya hasil tangkapan dari nelayan masuk ke TPI untuk dilakukan pelelangan. Pihak TPI secara harian mencatat data pelelangan dalam buku bakul.

Kedua sumber data untuk selanjutnya diperbandingkan guna melihat keakuratan data. Jika tingkat keakuratan data semakin tinggi (nilai > 90%) maka dapat dikatakan bahwa hampir seluruh nelayan melelang hasil tangkapannya di TPI. Sebaliknya jika tingkat keakuratan data rendah, maka dapat dikatakan bahwa banyak nelayan yang menjual ikannya tidak melalui proses pelelangan. Dengan ata lain nelayan melakukan penjualan ikan secara langsung kepada bakul. Skema pendekatan masalah dalam penelitian ini tersaji pada Gambar 1.

3. Materi dan Metode

3.1 Materi

Materi yang digunakan dalam kajian ini adalah data potensi dan nilai produksi hasil tangkapan alat tangkap cantrang yang diperoleh dari TPI Tegalsari dan Kantor Pelabuhan Perikanan Pantai Tegalsari

3.2 Metode

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode komparatif, yaitu dengan cara membandingkan data hasil tangkapan yang dilelang di TPI Tegalsari dengan yang dicatat di kantor Pelabuhan Perikanan Pantai Tegalsari Kota Tegal. Pembandingan dilakukan untuk mengetahui keakuratan data relatif pada masing-masing instansi pendataan.

3. Hasil dan Pembahasan

3.1 Tingkat Keakuratan Data

Perbandingan data untuk memperoleh keakuratan data dari instansi terkait yang mengeluarkan produksi (Kg) dan nilai produksi hasil tangkapan di TPI dan PPP Tegalsari Kota Tegal pada tahun 2006 dan 2007 tersaji pada Tabel 1.

Berdasarkan perhitungan Penyimpangan Data (PD) antara data produksi (Kg) hasil tangkapan yang dilaporkan oleh TPI Tegalsari dan Kantor PPP baik pada tahun 2006 maupun tahun 2007 terlihat adanya penyimpangan data.

Perbandingan data produksi dan nilai produksi hasil tangkapan yang tercatat oleh TPI Tegalsari dan Kantor Pelabuhan Perikanan Pantai pada tahun 2006 dan 2007 terlihat pada grafik yang tersaji pada Gambar 2.

3.2 Pembahasan

3.2.1. Potensi Produksi Perikanan

Berdasarkan hasil penelitian terlihat bahwa produksi dan nilai produksi perikanan cantrang mengalami perbedaan yang sangat signifikan, dengan data dari Kantor Pelabuhan Perikanan Pantai jauh lebih besar dari pada data dari TPI Tegalsari. Tingkat Keakuratan Data produksi (Kg) hasil tangkapan cantrang pada tahun 2006 sebesar 9,86 % dan nilai produksi (Rp) hasil tangkapan cantrang sebesar 11,17 %, sedangkan Tingkat Keakuratan Data produksi (Kg) sebesar 14,81% dan nilai produksi (Rp) hasil tangkapan cantrang pada tahun 2007 sebesar 15,53 %. Ini berartti bahwa pada tahun 2006 data produksi yang tidak tercatat di TPI sebesar 90,14% atau sebesar 16.173.252 kg, dan nilai produksi yang tidak tercatat 88,83 atau sebesar Rp 36.954.125.000,-. Selanjutnya pada tahun 2007 data produksi yang tidak tercatat di TPI sebesar 85,19% atau sebesar 8.954.913 kg, dan nilai produksi yang tidak tercatat 84,47 atau sebesar Rp 19.8280376.000,-.

Perbedaan data produksi dan nilai produksi hasil tangkapan antara TPI Tegalsari dan data dari Kantor Pelabuhan Perikanan Pantai Kota Tegal disebabkan karena data produksi nilai produksi (Rp) hasil tangkapan dari TPI Tegalsari merupakan data hasil tangkapan yang dilelang di TPI Tegalsari, sedangkan data Kantor Pelabuhan Pelabuhan Perikanan merupakan data produksi nilai produksi yang bersumber dari nelayan pada saat melakukan bongkar hasil tangkapan.

Perbedaan ini mengandung arti bahwa sebagian besar nelayan tidak menjual ikannya melalui proses pelelangan.

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya penjualan ikan tidak melalui proses pelelangan (langsung ke bakul) antara lain :

1. Adanya keterkaitan modal antara nelayan dengan bakul terutama untuk biaya operasional melaut (bakul member pinjaman modal operasional), dengan konsekuensi nelayan berkewajiban menjual hasil tangkapannya ke bakul khususnya untuk ikan segar

2. Pihak TPI (dalam hal ini KUD sebagai pelaksana) tidak mampu membayar transaksi lelang dalam waktu cepat

3. Mengurangi biaya retribusi lelang yang dianggap cukup besar. Ikan yang lelang merupakan ikan yang kurang ekonomis sehingga harganya rendah.

Berdasarkan hasil pengamatan selama pelaksanaan penelitian diperoleh bahwa pemanfaatkan TPI Tegalsari sebagai tempat terjadinya kegiatan transaksi jual beli ikan antara nelayan sebagai produsen dan pedagang belum dimanfaatkan secara maksimal. Hal ini terjadi karena hanya sebagian hasil tangkapan yang mempunyai nilai rendah seperti ikan ekor kuning (Upeneus tragula), petek (Leiognathus sp.), pari (Trigon sephen) dan beloso (Saurida tumbil) penjualannya melalui proses pelelangan ikan, sedangkan hasil tangkapan yang mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi cumi-cumi (Loligo sp.) dan bambangan (Lutjanus sp.) tidak dilakukan proses pelelangan ikan, hasil tangkapan tersebut langsung dijual kepada bakul oleh nelayan.

3.2.2. Potensi Retribusi Lelang Perikanan Cantrang

Banyaknya hasil tangkapan yang pendistribusiannya tidak melakukan proses pelelangan mengakibatkan akan mengurangi pendapatan daerah dari hasil perikanan laut Kota Tegal. Besarnya retribusi TPI Tegalsari ditetapkan sebesar 5 % yang dipungut dari nelayan sebesar 3 % dan dari bakul sebesar 2 % dari nilai hasil lelang hasil tangkapan (raman), sesuai dengan Peraturan Daerah Propinsi Jawa Tengah Nomor 10 tahun 2003 pasal 12 yang menyebutkan bahwa besarnya tarif retribusi Tempat pelelangan ikan sebesar 5 % (lima persen) dari nilai lelang dengan perincian sebagai berikut :

1. 3 % (tiga persen) dipungut dari nelayan

2. 2 % (dua persen) dipungut dari Bakul.

Sedangkan sanksi administrasi yang dikenakan bila tidak membayar retribusi lelang sesuai dengan pasal 18 yang menyatakan bahwa : Dalam hal wajib Retribusi tidak membayar tepat pada waktunya atau kurang membayar, dikenakan sanksi admistrasi berupa bunga sebesar 2 % (dua persen) setiap bulan dari besarnya Retribusi yang terutang, yang tidak atau kurang bayar dan ditagih dengan menggunakan RTRD.

Penggunaan secara rinci hasil pungutan TPI Tegalsari berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 10 tahun 2003 pasal 28 yang menyatakan bahwa punggunaan hasil pemungutan retribusi sebagaimana table 2.

Secara keseluruhan, selama dua tahun (2006 sampai dengan 2007), seharusnya retribusi lelang yang masuk Rp 3.253.906.700,- namun kenyataannya hanya sejumlah Rp 414.781.650,- saja yang masuk, sehingga kehilangan retribusi sebesar Rp 2.839.125.050,- Khususnya untuk pemerntah Kota Tegal, sesuai dengan Peraturan Daerah Propinsi Jawa Tengah Nomor 10 tahun 2003 mengalami kehilangan pendapatan sebesar Rp 539.433.760,-

5. Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan

- Potensi perikanan tangkap PPP Tegalsari cantrang yang sesungguhnya di TPI Tegalsari jauh lebih besar dari pada data yang tercantum di TPI Tegalsari.

- Data nilai produksi perikanan laut yang tercatat di TPI Tegalsari pada tahun 2006 9,86 untuk produksi dan 11,17 % untuk nilai produksi, sementara itu pada tahun 2007 hanya 14,81 untuk produksi dan 15,53 % untuk nilai produksi.

- Rendahnya tingkat keakuratan data disebabkan oleh banyaknya nelayan yang tidak menjual ikannya melalui proses pelelangan.

- Faktor utama yang menyebabkan nelayan tidak melakukan lelang adalah adanya keterikatan modal operasional nelayan kepada para bakul.

- Besarnya potensi PAD bagi Pemerintah Kota Tegal tahun 2006 sampai dengan 2007 sebesar Rp 618.242.273,- tetapi yang masuk hanya Rp 78.808.514,- sehingga mengalami kehilangan sebesar Rp 539.433.760,-

Saran

Perlu adanya pengawasan dan tindakan yang lebih tegas sesuai dengan Peraturan Daerah Propinsi Jawa Tengah Nomor 10 tahun 2003 tentang Tempat Pelelangan Ikan.

DAFTAR PUSTAKA

Azis, K.A dan B. Mennofatria. 2000. Konsep Dasar dan Pengembangan Sistem Pendataan Perikanan. Makalah disampaikan pada Diskusi Pembangunan Perikanan dan Kelautan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Bappenas. 2002. Strategi Pengelolaan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan. Makalah dalam Forum Komunikasi Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Berbasis Komunitas, Pantai Utara Jawa Bagian Barat. PIU-PCO Co-Fish, Ambarawa.

Effendie, H.M.I. 2002. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama, Yogyakarta

Gulland, J.A. 1991. Fish Stock Assessment. A Manual of Basic Methods. John Wiley & Son. Chichester-New York-Brisbane-Toronto-Singapure.

Kusnadi. 2006. Pemahaman dan Anatomi Kemiskinan Nelayan, Peluang dan Strategi Penanggulangannya dalam Perumusan Langkah Bersana Penanggulangan Kemiskinan Nelayan. Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. Badan Riset Kelautan dan Perikanan. Depertemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta

Kusumastanto, T. 2000. Peranan Data Statistik dalam Perencanaan Pembangunan Perikanan. Makalah disampaikan pada Diskusi Pembangunan Perikanan dan Kelautan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Marzuki. 2002. Metode Riset. Bagian Penerbitan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta

Nikijuluw, V. P. H. 2002. Rezim Pengelolaan Sumberdaya Perikanan. Pusat Pemberdayaan dan Pembangunan Regional (P3R) dan PT Pustaka Cidesindo, Jakarta.

Pane, A.B. 1998. Analisis Hasil Tangkapan (Dasar). Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Purwanto, A.B. 2002. Exploitation Status and A Strategy for The Management of The Java Sea Fisheries. Proceeding Workshop International Pengelolaan Sumberdaya Perikanan. Ditjen Perikanan Tangkap DKP, Jakarta

Pusat Riset Perikanan Tangkap. 2005. Pentingnya Bukti - Bukti Ilmiah dalam Pengambilan Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Ikan. Departemen Kelautan dan Perikanan. http://www.dkp.go.id. diterima Google’s pada 12 Jul 2005 03:44:26 GMT

Saptarini, D., Suprapti dan H.P. Santosa. 1995. Pengelolaan Sumberdaya Kelautan dan Wilayah Pesisir. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta

Sarosa, W. 2003. Pemanfaatan Laut Melalui Pemberdayaan Nelayan. Info URDI Vol. 11. http://www.urdi.org/urdi/ seperti yang diterima pada 06 Oktober 2005 09:30:45 GMT




2 komentar:

  1. Perbanyak dong tulisan tentang perikanan di kota Tegal!

    BalasHapus
  2. Yth Pak Kusnandar,

    Penelitian Bapak, "STUDI AKURASI DATA HASIL TANGKAPAN CANTRANG DI PPI TEGALSARI" menarik sekali. Saya ingin kontak Bapak lebih lanjut tentang studi ini, bisa minta alamat email Bapak? Email saya: e.buchary@gmail.com.

    Terima kasih.

    Salam,
    Eny Buchary

    BalasHapus